Friday, 28 April 2017

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. A DENGAN PERILAKU KEKERASAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kehidupan modern yang semakin kompleks ini, rentan terjadi konflik sosial hal ini akan memicu terjadinya  peningkatan stress apabila seseorang kurang mengadaptasi keinginan-keinginan dengan kenyataan-kenyataan yang dimiliki, baik kenyataan yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Gaya hidup dan persaingan hidup menjadi semakin tinggi, hal ini disebabkan karena tuntutan akan kebutuhan ekonomi, sandang, pangan dan papan, pemenuhan kebutuhan kasih sayang, rasa aman, dan aktualisasi diri dapat berakibat tingginya tingkat stress dan depresi di kalangan masyarakat. Jika individu kurang atau tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping dan gagal dalam beradaptasi maka individu akan mengalami berbagai penyakit baik fisik maupun mental bahkan gangguan jiwa (Rasmun, 2004).
Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi sel-sel saraf di otak, dapat berupa kekurangan maupun kelebihan neutrotransmiter atau substansi tertentu (Febrida, 2007). Data WHO 2006, mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang.
Prevalensi gangguan kesehatan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di daerah khusus ibu kota Jakarta (24,3 persen), di ikuti oleh Nangroe Aceh Darussalam (18,5 persen), Sumatera barat (17,7 persen), NTB (10,9 persen), Sumatera selatan (9,2 persen), Jawa tengah (6,8 persen)  (Depkes RI 2008). Berdasarkan data riset kesehatan dasar (2007), menunjukan bahwa prevalensi gangguan jiwa secara nasional mencapai 5,6 persen dari jumlah penduduk, dengan kata lain menunjukan bahwa pada setiap 1000 orang penduduk terdapat 4 sampai 5 orang menderita gangguan jiwa, berdasarkan dari data pertahun di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa selalu meningkat (DepKes, 2012)
Sedangkan menurut data dari dinas kesehatan provinsi Jawa Tengah menunjukan bahwa dari 150 juta penduduk di wilayah Jawa Tengah , ada sekitar 1,47 juta yang mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut tidak mendapatkan penanganan khusus akibat kurangnya fasilitas pelayanan khusus untuk penyakit gangguan jiwa, kebanyakan dari mereka hanya dibiarkan dijalanan dan dipasung sehingga terus mengalami peningktan setiap tahun. 69 % diantaranya mengalami gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan, 11% halusinasi,  13% harga diri rendah, 12% waham.  Melihat angka kejadian dan peningkatan yang cukup besar tersebut diharapkan pemerintah provinsi Jawa Tengah lebih memperhatikan dengan serius masalah ini (Dep Kes RI, 2007).
Upaya dalam penanganan masalah kesehatan jiwa di Indonesia belum memuaskan. Hal itu karena keterbatasan anggaran pemerintah, minimnya sarana pelayanan serta sumber daya manusia, baik psikiater maupun perawat kesehatan jiwa. Selain itu pemahaman masyarakat mengenai masalah kesehatan jiwa masih rendah. Masih ada stigma terhadap gangguan jiwa, serta adanya rasa malu untuk mencari pertolongan. Masyarakat mengidentifikasi gangguan jiwa hanya dengan psikotik atau gila. Banyak yang belum tahu bahwa kecemasan dan depresi termasuk gangguan mental dan perlu perawatan karena keadaan depresi juga dapat memicu terjadinya perilaku kekerasan.
Salah satu bentuk gangguan jiwa adalah perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan merupakan respon kemarahan yang paling maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilangnya kontrol, dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Helena & Keliat, 2006).
Perilaku kekerasan merupakan respon terhadap keunikan, kekuatan dan lingkungan rumah sakit yang terbatas yang membuat klien merasa tidak berharga dan tidak diperlakukan secara manusiawi. Respon ini dapat diekspresikan secara internal maupun eksternal. Secara internal dapat berperilaku yang tidak asertif dan merusak diri, sedangkan secara eksternal dapat berupa perilaku destruktif agresif. Adapun respon marah diungkapkan melalui 3 cara yaitu secara verbal, menekan dan menantang (Yosep, 2007)
Menurut data rekam medis RSJD dr. AMINO GONDOHUTOMO Semarang pada tahun 2013 jumlah penderita gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan mencapai 62,76 % atau 235 jiwa. Jumlah yang cukup besar untuk diperhatikan dan mendapatkan penanganan yang serius. Hal ini  dibuktikan dengan data rekam medis pada tahun 2012 yaitu 23,05% atau sekitar 107 jiwa. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap tahun jumlah penderita gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan terus  meningkat.
Pada dasarnya semua pasien dengan perilaku kekerasan di RSJD dr. AMINO GONDOHUTOMO Semarang telah mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan oleh dokter spesialis kejiwaan, rawat inap/jalan, terapi dengan obat-obatan psikotropika, terapi kejang listrik (ECT) dan lain-lain, akan tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang optimal pada kenyataanya banyak pasien dengan perilaku kekerasan yang sudah pernah dirawat kemudian kembali lagi ke rumah sakit, bahkan jumlah pasien dengan perilaku kekerasan bertambah banyak setiap tahunya.
Melihat permasalahan diatas, kasus gangguan jiwa dengan perilaku  kekerasan di RSJD dr. AMINO GONDOHUTOMO Semarang, yang mencapai 62,76 % penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah mengenai “ ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN  PERILAKU KEKERASAN DI RSJD dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG”

B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan perilaku kekerasan
b.      Mampu menetukan masalah keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan
c.       Mampu membuat diagnosa keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan
d.      Mampu membuat intervensi/rencana keperawatan pada klien dengan  perilaku kekerasan
e.       Mampu membuat implementasi/tindakan keperawatan pada klien dengan  perilaku kekerasan
f.       Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan peda klien dengan  perilaku kekerasan
C.    Metode Penulisan
Dalam penulisan laporan ini penulis menggunakan metode dekskriptif dan dalam mengumpulkan data penulis menggunakan metode study kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan disajikan dalam bentuk narasi.
Berikut adalah cara yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data guna penyusunan karya tulis ilmiah, misalnya :
1.      Wawancara
Mengadakan tanya jawab dengan pihak terkait: Klien maupun tenaga kesehatan mengenai data klien tentang perilaku kekerasan.
2.      Observasi Partisipasi
Dengan mengadakan pendekatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung selama klien di rumah sakit jiwa
3.      Pemeriksaan fisik
Metode pengumpulan data dengan melakukan pemeriksaan pada klien yaitu dari kepala sampai kaki (head to toe)
4.      Studi dokumentasi
Metode penyelidikan untuk memperoleh keterangan atau informasi dari catatan tentang gejala atau peristiwa yang lalu mengenai perawatan maupun pengobatan
5.      Studi kepustakaan
Menggunakan dan mempelajari literatur medis maupun perawatan penunjang sebagai teoritis untuk menegakan diagnosa dan perencanaan keperawatan
D.    Manfaat Penulisan
1.      Bagi Penulis
Hasil penelitian ini dapat menjadi pengalaman belajar dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penulis
2.      Bagi Institusi
a.       Bagi rumah sakit
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan berkaitan dengan pasien perilaku kekerasan
b.      Bagi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi atau ilmu bagi institusi keperawatan khususnya keperawatan jiwa.
c.       Bagi profesi perawat
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi profesi tentang pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku kekerasan sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. 


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.       Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain ( Yosep, 2011).
Resiko perilaku kekerasan atau agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk dekstruktif dan masih terkontrol (Yosep, 2007).

B.       Rentang respon


 






Perilaku asertif merupakan perilaku individu yang mampu menyatakan dan mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyakiti atau menyalahkan orang lain. Dengan perilaku ini dapat melegakan perasaan pada individu. Frustasi merupakan respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan. Perilaku pasif merupakan perilaku individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan marah yang sedang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu tuntutan nyata. Agresif merupakan suatu perilaku yang menyertai marah, merupakan dorongan mental untuk bertindak dan masih terkontrol. Individu agresif tidak mempedulikan hak orang lain. Bagi individu ini hidup adalah medan peperangan. Biasanya individu kurang mempercayai diri. Harga dirinya ditingkatkan dengan cara menguasai orang lain untuk membuktikan kemampuan yang dimilikinya. Violent (amuk) adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat dan disertai kehilangan kontrol, yang dapat merusak diri dan lingkungan (Riyadi dan Purwanto, 2009).

C.       Etiologi
Menurut Riyadi dan Purwanto (2009) faktor-faktor yang mendukung terjadinya masalah perilaku kekerasan adalah
1.      Faktor biologis
a.         Instinctual drive theory (teori dorongan naluri)
Teori ini menyatakan bahwa perilaku kekerasan disebabakan oleh suatu dorongan kebutuhan dasar yang kuat.
b.        Psycomatic theory (teori psikomatik)
Pengalaman marah adalah akbatdari respon psikologis terhadap stimulus eksternal, internal maupun lingkungan.
2.      Faktor psikologis
a.         Frustasion aggresion theory (teori agresif frustasi)
Menurut teori ini perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil akumulasi frustasi terjadi apabila keinginan individu untuk mencapai sesuatu gagal atau terhambat.
b.    Behaviororal theory ( teori perilaku)
Kemarahan adalah proses belajar, hal ini dapat dicapai apabila tersedia fasilitas atau situasi yang mendukung.
c.         Existensial theory (teori eksistensi)
Bertindak sesuai perilaku adalah kebutuhan dasar manusia apabila kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi melalui perilaku konstruktif maka individu akan memenuhi kebutuhanya melalui perilaku destruktif.
3.      Faktor sosial kultural
a.         Sosial Environment theory (teori lingkungan)
Lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan marah. Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol yang tidak pasti  terhadap perilaku kekerasan  akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima.
  
D.       Pohon Masalah
         Resiko Mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan









 



                                     Gangguan konsep diri : harga diri rendah
                                                          (Keliat, 2006)             

E.       Manifestasi Klinis
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah. Kemudian perawat dapat melakukan pengkajian dengan cara:
1.        Observasi: Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat. Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.
2.        Wawancara: diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang dirasakan klien.
3.        Menurut Keliat, 2006 tanda-tanda klinisnya yaitu Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi), rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri), gangguan hubungan sosial (menarik diri), percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan), mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
F.       Penatalaksanaan Medis
Menurut Yosep (2007) obat-obatan yang biasa diberikan pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
a.         Antianxiety dan sedatif hipnotics. Obat-obatan ini dapat mengendalikan agitasi yang akut. Benzodiazepine seperti Lorazepam dan Clonazepam, sering digunakan dalam kedaruratan psikiatrik untuk menenangkan perlawanan klien. Tetapi obat ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan dalam waktu lama karena dapat menyebabkan ketergantungan dan kebingungan, juga bisa memperburuk simptom depresi
b.        Buspirone obat antianxiety, efektif dalam mengendalikan perilaku kekerasan yang berkaitan dengan kecemasan dan depresi.
c.         Antidepressants, penggunaan obat ini mampu mengonrol impulsif dan perilaku agresif klienyang berkaitan dengan perubahan mood. Amitriptyline dan Trazodon, menghilangkan agresifitas akibat cedera kepala dan gangguan mental organik.
d.        Antipsycotic dipergunakan untuk perawatan perilaku kekerasan.

G.       Asuhan Keperawatan
1.    Pengkajian :
Menurut Farida (2010) data yang perlu dikaji pada pasien dengan  perilaku kekerasan yaitu pada data subyektif klien mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, mengatakan dendam dan jengkel. Klien juga menyalahkan dan menuntut. Sedangkan pada data obyektif klien menunjukan tanda-tanda mata melotot dan pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah merah dan tegang, postur tubuh kaku dan suara keras.
2.    Masalah keperawatan:
a.         Perilaku kekerasan / amuk
b.        Gangguan konsep diri : harga diri rendah
c.         Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
3.    Data yang perlu dikaji:
1)   Perilaku kekerasan / amuk
a)        Data Subyektif :
(1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
(2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
(3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b)        Data Obyektif
(1) Mata merah, wajah agak merah.
(2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
(3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
(4) Merusak dan melempar barang‑barang.
2)   Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
a)        Data Subyektif :
(1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
(2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
(3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b)        Data Objektif :
(1) Mata merah, wajah agak merah.
(2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
(3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
(4) Merusak dan melempar barang‑barang.
4.         Diagnosa Keperawatan
1.                   Perilaku kekerasan
2.                   Gangguan konsep diri : harga diri rendah
3.                   Resiko menederai diri, orang lain dan lingkungan

5.         Rencana Tindakan
Diagnosa 1       :  perilaku kekerasan
Tujuan Umum    : Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan
a.         Tujuan Khusus:
1)        Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
a)         Beri salam/panggil nama
b)        Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan
c)         Jelaskan maksud hubungan interaksi
d)        Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat
e)         Beri rasa aman dan sikap empati
f)         Bicara dengan rileks dan tenang tanpa menantang
2)        Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
a)         Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaanya
b)        Bantu klien mengidentifikasi penyebab jengkel/kesal
3)        Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
Tindakan :                        
a)         Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami dan dirasakanya saat marah/jengkel
b)        Observasi tanda dan gejala perilaku kekerasan pada klien
c)         Simpulkan bersama klien tanda dan gejala jengkal/kesal yang dialami klien
4)        Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Tindakan:
a)         Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien (verbal,pada orang lain,pada lingkungan, dan diri sendiri)
b)        Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
c)         Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai
5)        Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
Tindakan:
a)         Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan klien
b)        Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang dilakukan oleh klien
c)         Tanyakan kepada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”
6)        Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
Tindakan :
a)         Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
b)         Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
c)         Diskusikan dua cara fisik yang paling mudah dilakukan untuk mencegah perilaku kekerasan, yaitu tarik nafas dalam dan pukul bantal dan kasur
d)        Diskusikan cara melakukan tarik nafas dalam dengan klien
e)         Beri contoh pada klien tenteang cara menarik nafas dalam
f)          Minta klien untuk mengikuti contoh yang diberikan sebanyak 5 kali
g)         Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mendemonstrasikan cara menarik nafas dalam
h)         Tanyakan perasaan klien setelah selesai
i)           Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah
7)        Klien dapat mendemonstrasikan cara sosial/verbal untuk mencegah perilaku kekerasan
Tindakan:
a)         Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien
b)        Beri contoh cara bicara yang baik:
(1). Meminta dengan baik
(2). Menolak dengan baik
(3). Mengungkapkan perasaan dengan baik
c)     Minta klien mengikuti contoh cara yang baik
d)    Minta klien mengulang sendiri
e)     Beri pujian atas keberhasilan klien
f)     Diskusikan dengan klien tentang waktu dan kondisi cara bicara yang dapat dilatih diruangan
g)    Susun jadwal kegiatanuntuk melatih cara yang dipelajari
h)    Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan latihan
8)    Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah perilaku kekerasan
       Tindakan :
c)         Diskusikan dengan klien kegiatan ibadah yang pernah dilakukan
d)        Bantu klien menilai kegiatan ibadah yang dapat dilakukan diruang rawat
e)         Bantu klien memilih kegiatan ibadah yang akan dilakukan
f)         Minta klien untuk medemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih
g)        Beri pujian atas keberhasilan klien
9)    Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
Tindakan :
a)      Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang diminumnya (nama,warna,besarnya); waktu minum obat jika 3 kali: pkl. 07.00, 13.00, 19.00); cara minum obat
b)      Diskusikan denga klien tentang manfaat minum obat secara teratur:
(1) Beda perasaan sebelum minum obat dan sesudah minum obat
(2) Jelaskan bahwa dosis hanya boleh diubah oleh dokter
(3) Jelaskan akibat minum obat yang tidak teratur, misalnya, penyakitnya kambuh
c)    Diskusikan tentang proses minum obat:
(1) Klien meminta obat kepada perawat (jika di rumah sakit) kepada keluarga (jika dirumah)
(2)  Klien memeriksa obat sesuai dosisnya
(3)  Klien meminum obat pada waktuyang tepat
d)    Susun jadwal minum obat bersama klien
e)    Validasi pelaksanaan minum obat klien
f)     Tanyakan kepada klien “bagaimana perasaan budi dengan minum obat secara teratur ? apakah keinginan untuk marah berkurang ?”
Diagnosa 2 : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
a.         Tujuan Umum  : Klien tidak melakukan kekerasan
b.        Tujuan Khusus :
1)    Klien dapat membina hubungan saling percaya
 Tindakan:
a)      Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik.
b)      Sapa klien dengan ramah, baik verbal/nonverbal
c)      Perkenalkan diri dengan sopan
d)     Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
e)      Jelaskan tujuan pertemuan.
f)       Jujur dan menepati janji.
g)      Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan:
a)      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien, buat daftarnya.
b)      Hindarkan memberi penilaian negative, setiap ketemu dengan pasien.
c)      Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien
3)         Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
Tindakan :
a)      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
b)      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan / digunakan di RS.
c)      Berikan pujian
4)        Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan:
a)      Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan/ mau dilakukan di RS:
(1)       Kegiatan sendiri
(2)       Kegiatan dengan bantuan sebagian
(3)       Kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
b)      Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.
c)      Beri pujian atas keberhasilan klien.
d)     Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih.
1)        Catatan: ulangi kemampuan lain sampai selesai semua.
5)         Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan   kemampuannya.
Tindakan :
a)    Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
b)   Beri pujian atas keberhasilan klien.
c)    Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
6)      Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
a)      Beri penkes pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
b)      Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
c)      Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
d)     Jelaskan cara pelaksanaan jadual kegiatan klien di rumah.
e)      Anjurkan memberi pujian pada klien setiap berhasil.

No comments:

Post a Comment